Sebab sejarah tidak selalu hilang karena dibakar. Kadang-kadang ia tetap tersimpan rapi, tetapi hanya satu pihak yang memegang kuncinya.
Dan menulis ulang sejarah tidak selalu berarti mengganti isinya. Barangkali, ia dimulai dengan membagikan kembali hak untuk bersuara.
Tulisan ini disarikan dari penelitian penulis bersama tim terhadap naskah final teater Di Mana Engkau, Radin? karya Iswadi Pratama. Penelitian dilakukan menggunakan analisis wacana kritis tiga dimensi Norman Fairclough untuk menelusuri pilihan bahasa dan petunjuk pemanggungan, pertemuan berbagai suara dan sumber sejarah, serta relasi kuasa yang direpresentasikan di dalam naskah. Karena itu, pembacaan dalam tulisan ini berfokus pada makna yang dibentuk oleh teks pertunjukan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan niat pengarang maupun pengalaman seluruh penonton. (*)
Penulis : Eling Wening Pangestu, S.I.Kom., M.A.
Dosen Program Studi Produksi Media
Politeknik Negeri Lampung
Berikan Komentar
Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...
630
292
02-Nov-2026
272
02-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia