Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah Lampung?
Lampungpro.co, 02-Nov-2026

Sandy 290

Share

Dosen Program Studi Produksi Media Polinela, Eling Wening Pangestu, S.I.Kom., M.A. | LAMPUNGPRO.CO/Ist

Pesenggiri hidup dalam tuntutan menjaga harga diri melalui perbuatan. Sakai Sambayan terasa ketika marga-marga dipanggil untuk memikul perjuangan bersama. Bejuluk Beadek diuji ketika pangkat dipisahkan dari martabat. Nemui Nyimah justru hadir melalui lukanya, ketika pelukan, tikar, makanan, dan perjamuan diubah menjadi jalan bagi racun dan pengkhianatan. Nengah nyappur tampak ketika Radin menghimpun berbagai marga dan meletakkan perjuangannya di atas mufakat.

Nilai-nilai itu tidak berdiri sebagai pajangan kebudayaan. Ia hidup karena dilanggar, dipertaruhkan, dan dibayar mahal.

Di Mana Engkau, Radin? tidak memberi kita sejarah yang lebih suci untuk menggantikan sejarah kolonial. Ia juga tidak menjanjikan masa lalu yang utuh. Panggung mengumpulkan serpihan, menyusun dalam hubungan baru, lalu membiarkan serpihan-serpihan itu saling memantulkan cahaya dan bayangannya.

Mungkin itu sebabnya judul pertunjukan ini tetap berupa pertanyaan.

Radin telah lama wafat. Namun, suaranya masih dicari di dalam catatan lawan, ingatan keluarga, ratapan perempuan, aksara yang diajarkan kepada anak, dan tubuh-tubuh yang bersedia memanggungkan kembali sejarahnya.

Pertanyaan “Di mana engkau, Radin?” akhirnya kembali kepada mereka yang hidup hari ini.

Di mana kita berdiri ketika sejarah ditulis? Apakah kita hanya mewarisi nama, atau juga keberanian untuk memeriksa cerita di belakangnya? Apakah kita cukup puas mengenang pahlawan, atau bersedia menanyakan siapa yang selama ini tidak memperoleh nama?

1 2 3 4 5 6 7 8

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Mereka Turun ke Jalan

Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...

630


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved