Malu dalam adegan itu bukan rona merah di wajah. Ia bukan ketakutan menghadapi gunjingan. Malu tumbuh ketika seseorang menyadari bahwa kenyamanannya berdiri di atas kesengsaraan orang lain. Ia menjadi luka yang tidak dapat ditutup dengan pangkat atau kekayaan.
Jawaban “mati” juga tidak perlu dibaca sebagai pemujaan terhadap kematian. Ia adalah bahasa yang dibawa sampai ke batasnya. Hidup tanpa martabat dianggap lebih buruk daripada kehilangan tubuh. Sesudah kalimat itu diucapkan, musik bergemuruh. Ruang keluarga pecah menjadi medan perjuangan.
Ratu Mas tidak mengantarkan Radin Inten II ke tempat aman. Ia memberinya alasan untuk meninggalkan keselamatan.
Di sana, Ratu Mas tidak hadir sebagai hiasan kesedihan. Sebagai ibu Radin Inten II dan istri Radin Imba Kusuma II, ia tidak sekadar menjaga kenangan tentang suaminya yang telah wafat. Ia memilih ingatan mana yang harus diselamatkan, lalu mengubahnya menjadi kompas moral bagi anaknya.
Sejarah kemudian masuk membawa kertas.
Catatan militer, nama pejabat, peta, surat damai, dan laporan kolonial memenuhi cerita terutama dalam Babak II Adegan 3 sampai Adegan 5. Kata-kata seperti “aman”, “pembangkang”, “kerusuhan”, “mundur”, dan “berdamai” beredar seolah-olah hanya menjelaskan keadaan. Padahal, setiap kata membawa tangan yang memilihnya.
Mayor A.W.P. Weitzel menolak menyebut kegagalan militer Belanda sebagai kekalahan yang dipentaskan pada Babak II Adegan 3.
Berikan Komentar
Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...
630
287
02-Nov-2026
272
02-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia