Sayangnya, kesadaran itu justru sering kali hilang.
Pengunjung datang untuk bersenang-senang, berenang, berfoto, bermain air. Tapi sungai bukan kolam renang. Ia hidup, bergerak, dan menyimpan potensi bahaya yang tidak selalu terlihat.
Di sisi lain, pengelola wisata seharusnya memahami betul karakter aliran sungai ini. Bukan sekadar menjadikannya objek jualan, tetapi juga memastikan keselamatan setiap orang yang datang.
Peristiwa ini adalah pertama kali terjadi di wisata tersebut. Tentu ini menjadi pukulan berat bagi pemilik dan pengelola, karena pasca tragedi ini sangat mungkin menimbulkan rasa takut di kalangan pengunjung untuk kembali datang.
Pertanyaannya, apakah pengawasan sudah benar-benar maksimal?
Idealnya, harus ada petugas yang selalu siaga mengawasi kondisi air dan aktivitas pengunjung. Harus ada sistem peringatan dini, sekecil apa pun bentuknya. Harus tersedia alat keselamatan seperti pelampung, tali penyelamat, atau langkah evakuasi cepat ketika kondisi berubah.
Pemilik dan pengelola wisata harus segera melakukan evaluasi dan berbenah. Di antaranya dengan mengoptimalkan pengawasan di lokasi, memastikan petugas selalu berada di titik-titik rawan, serta menempatkan alat peringatan atau alarm dini apabila terjadi peningkatan debit air yang tidak normal di bagian hulu.
Berikan Komentar
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia