Berjamurnya media massa siber atau media online di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung, menjadi obrolan yang selalu menarik. Apalagi jika obrolan itu ditemani secangkir kopi hitam khas Lampung Barat, dari perkebunan kopi di Pekon Puramekar, Kecamatan Gedung Surian. Di tempat sunyi nan hangat itu, penulis melepas rindu bersama keluarga, sembari merenungi nasib dunia media yang kian hari kian gaduh, tapi justru kian sepi.
Penulis yang sejak 2017 berkecimpung dan mengelola media massa siber bersama rekan-rekan jurnalis senior, merasakan betul bagaimana roda media ini berputar. Kadang terasa melaju, tapi lebih sering seperti roda Cadangan tetap berputar, namun jarang menyentuh aspal kesejahteraan.
Di awal mendirikan media, niat penulis masih lurus-lurus saja. Tidak muluk-muluk. Ingin menjadikan media yang dikelola sebagai nomor satu di Lampung. Nomor satu karena trafik pembacanya tinggi. Nomor satu karena informasinya dipercaya. Nomor satu karena beritanya ditunggu pembaca.
Bahkan sejak awal, media penulis memilih jalan yang bersahabat. Ada slogan yang selalu dipegang: jika bisa berkawan, untuk apa berlawan. Media hadir sebagai mitra, bukan ancaman. Mengedepankan konfirmasi, keseimbangan, dan etika. Tidak gemar menyerang, apalagi mengancam. Prinsipnya sederhana, pers bekerja untuk publik, bukan untuk menakut-nakuti.
Namun, kenyataan berkata lain.
Seperti dua sisi mata uang, ketenaran dan popularitas media tidak serta-merta menghadirkan cuan tanpa diundang. Media boleh saja viral, pembacanya ramai, tangkapan layar beritanya berseliweran di grup WhatsApp, tapi dompet redaksi tetap tipis. Popularitas ternyata tidak otomatis menarik perusahaan atau mitra untuk pasang iklan.
Berbagai metode dan gaya marketing sudah ditempuh. Presentasi dibuat berapi-api, seolah media ini adalah masa depan peradaban informasi Lampung. Proposal dicetak di kertas artpaper glossy, lengkap dengan grafik dan data yang menunjukkan bahwa media penulis adalah “yang terbaik di kelasnya”. Namun hasilnya tetap sama: senyum di awal, janji dipertimbangkan, lalu menghilang ditelan waktu.
Setelah napas habis dan semua jurus digunakan, cuan tetap tak kunjung datang. Bertahun-tahun lamanya, kalau kata pepatah, ibarat juragan bokor: tersohor, tapi selalu tekor.
Padahal secara kelembagaan, media massa penulis telah bersertifikasi Dewan Pers. Redaksi dipimpin wartawan bersertifikat wartawan utama syarat penting dalam mengelola media profesional. Wartawan di lapangan pun telah mengikuti uji kompetensi wartawan. Bukan sekadar mengaku wartawan bermodal kartu nama cetak sendiri dan akun media sosial.
Namun tetap saja, cuan tak kunjung menyapa.
Ironisnya, di sisi lain, banyak media yang tidak memiliki semua itu. Struktur redaksi tak jelas, alamat redaksi samar, wartawannya entah diuji atau hanya diuji mental. Tapi kerja sama media justru mengalir deras, bagai hujan siang dan malam. Fenomena ini membuat bingung, bahkan getir, para pejuang media yang masih memegang teguh idealisme profesi.
Di titik inilah penulis sampai pada kesimpulan pahit: ternyata yang paling penting bukan seberapa banyak pembaca mediamu, bukan seberapa lengkap administrasi dan sertifikasi yang kamu punya. Yang lebih menentukan adalah satu hal sederhana sekaligus menyesakkan: siapa kamu.
Bukan apa mediamu, tapi siapa dirimu di mata mereka.
Dalam lanskap media hari ini, kekuatan personal sering kali lebih utama daripada kekuatan institusi. Media boleh saja biasa-biasa, tapi jika pengelolanya disegani, orderan akan banjir. Jika ditakuti, cuan bisa berguyur. Jika mudah diatur, tetap dapat bagian iklan meski tidak besar. Jika berkuasa atau memegang “kunci kelemahan”, urusan seolah lebih cepat beres. Jika lidah manis, semua terasa lunak. Apalagi jika lidahnya tajam dan mengancam lebih aman semua urusan.
Di titik ini, penulis mulai bertanya pada diri sendiri: jangan-jangan selama ini media yang terlalu bersahabat memang kurang “menjual”? Mungkinkah di era sekarang, menjadi media penyerang justru lebih cepat mendatangkan cuan dibanding media yang memilih berkawan?
Mungkin sudah saatnya peran dipertimbangkan ulang. Jika selama ini media penulis berperan sebagai protagonis, tenang, santun, dan menjaga etika barangkali tahun ini harus belajar menjadi antagonis. Bukan berarti meninggalkan kebenaran, tapi lebih berani, lebih keras, lebih tajam. Karena faktanya, di dunia media hari ini, yang sering bertahan bukan yang paling sopan, tapi yang paling ditakuti.
Idealnya memang tidak begitu. Tapi idealisme sering kalah ketika berhadapan dengan isi dompet yang menipis. Prinsip beradu dengan perut, dan sering kali perut menang lebih dulu.
Belum selesai sampai di situ, kondisi media massa saat ini juga semakin lesu dihantam oleh media sosial. Informasi di media sosial berlari jauh lebih cepat, tanpa redaksi, tanpa verifikasi, tanpa beban etik. Satu unggahan bisa mengalahkan sepuluh berita. Satu video pendek bisa menenggelamkan liputan panjang yang disusun dengan susah payah.
Media siber akhirnya seperti pelari jarak jauh yang dipaksa lomba sprint. Kalah cepat, kalah viral, kalah perhatian.
Di tengah semua itu, kopi hitam dari Lampung Barat terasa semakin pahit. Tapi justru dari pahit itulah penulis belajar: dunia media hari ini bukan lagi soal siapa paling benar, tapi siapa paling tahan. Bukan siapa paling idealis, tapi siapa paling lihai membaca arah angin.
Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar media massa hari ini bagaimana tetap waras, tetap jujur, di tengah dunia yang semakin gemar membayar suara, bukan kebenaran. (EdAI)
Muhammad Asyihin, S. Pd., M.M. (Pimpinan Media)
Berikan Komentar
Lampung Selatan
1938
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia