Peristiwa hanyutnya dua mahasiswi di kawasan Wira Garden pada 1 April bukan sekadar kabar duka. Bagi saya, ini adalah luka yang terasa lebih dekat karena sungai itu bukan tempat asing. Ia adalah bagian dari masa kecil saya.
Penulis turut berduka cita yang mendalam untuk keluarga korban. Semoga diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi musibah ini.
Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, aliran sungai di kawasan itu adalah ruang bermain kami. Airnya jernih, arusnya menantang, bebatuan serta tebing-tebingnya menjadi saksi tawa anak-anak yang tumbuh bersama alam. Sungai itu mengalir menembus kawasan Wisata Sumur Putri, lalu terus bergerak hingga ke wilayah Teluk Pasar Cimeng dan bermuara ke laut.
Saya mengenal sungai itu bukan dari cerita, tetapi dari pengalaman. Dan dari pengalaman itulah saya tahu satu hal penting, banjir bandang di sungai ini bukan sesuatu yang aneh.
Sejak dulu, perubahan debit air yang tiba-tiba sudah menjadi bagian dari “watak” sungai tersebut. Bahkan saat cuaca di lokasi tampak cerah, air bisa mendadak berubah ganas. Penyebabnya sederhana, hujan di hulu, yang tak terlihat oleh kita di hilir.
Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana air yang semula jernih kehijauan tiba-tiba berubah keruh kekuningan, tanda bahwa arus besar sedang datang. Saya juga pernah melihat langsung gulungan air dari hulu seperti dinding yang bergerak cepat. Bahkan, dalam satu momen, saya hampir terseret arus dan hanya bisa menyelamatkan diri dengan berpegangan pada batang pohon pisang di tepian sungai.
Itu bukan cerita dramatis. Itu kenyataan alam. Karena itu, ketika hari ini sungai tersebut menjadi tempat wisata, ada satu hal yang seharusnya tidak boleh berubah: kesadaran akan risikonya.
Maut memang Tuhan yang punya kuasa, namun manusia tetap harus berusaha menjaga nyawanya sendiri. Dalam konteks wisata alam, kewaspadaan bukan pilihan, melainkan keharusan.
Sayangnya, kesadaran itu justru sering kali hilang.
Pengunjung datang untuk bersenang-senang, berenang, berfoto, bermain air. Tapi sungai bukan kolam renang. Ia hidup, bergerak, dan menyimpan potensi bahaya yang tidak selalu terlihat.
Di sisi lain, pengelola wisata seharusnya memahami betul karakter aliran sungai ini. Bukan sekadar menjadikannya objek jualan, tetapi juga memastikan keselamatan setiap orang yang datang.
Peristiwa ini adalah pertama kali terjadi di wisata tersebut. Tentu ini menjadi pukulan berat bagi pemilik dan pengelola, karena pasca tragedi ini sangat mungkin menimbulkan rasa takut di kalangan pengunjung untuk kembali datang.
Pertanyaannya, apakah pengawasan sudah benar-benar maksimal?
Idealnya, harus ada petugas yang selalu siaga mengawasi kondisi air dan aktivitas pengunjung. Harus ada sistem peringatan dini, sekecil apa pun bentuknya. Harus tersedia alat keselamatan seperti pelampung, tali penyelamat, atau langkah evakuasi cepat ketika kondisi berubah.
Pemilik dan pengelola wisata harus segera melakukan evaluasi dan berbenah. Di antaranya dengan mengoptimalkan pengawasan di lokasi, memastikan petugas selalu berada di titik-titik rawan, serta menempatkan alat peringatan atau alarm dini apabila terjadi peningkatan debit air yang tidak normal di bagian hulu.
Karena di sungai seperti ini, perubahan tidak memberi waktu untuk berpikir panjang.
Jika benar saat kejadian tidak ada petugas yang siaga, maka ini bukan sekadar musibah. Ini adalah alarm keras tentang kemungkinan kelalaian.
Lebih ironis lagi, ketika pemilik tempat wisata disebut-sebut adalah salah satu anggota DPRD Kota Bandar Lampung yang memahami fungsi pengawasan publik. Maka publik tentu berhak bertanya: jika mengelola kawasan sendiri saja lalai, bagaimana dengan tanggung jawab yang lebih besar?
Ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan.
Taman Wisata Wira Garden memang menjadi salah satu destinasi favorit di Lampung. Banyak keluarga dan anak muda datang karena daya tariknya: bisa bermain air langsung di alam. Namun justru di situlah letak tanggung jawab yang lebih besar.
Alam tidak bisa dikendalikan, tetapi risiko bisa dikelola.
Peristiwa ini harus menjadi titik balik. Bukan hanya bagi pengelola wisata, tetapi juga bagi kita semua. Bahwa keindahan alam selalu datang bersama potensi bahaya.
Saya menulis ini bukan sebagai orang luar, tetapi sebagai seseorang yang pernah tumbuh di aliran sungai itu. Yang pernah menyusuri alirannya dengan ban dalam sebagai pelampung, dari hulu hingga mendekati Taman Wisata Sumur Putri. Yang pernah merasakan derasnya arus dan melihat sendiri bagaimana sungai bisa berubah dalam hitungan menit.
Sungai itu tidak pernah berubah.
Yang berubah adalah cara kita memandangnya.
Dan mungkin, kita mulai terlalu meremehkan alam. (edAI)
Berikan Komentar
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia