Tabik puuunnn.....
Awalnya, saya mengira lagu 'Bang Toyib' ciptaan Sandy Sulung yang dinyanyikan Ade Irma, hanya gurauan. Lagu dangdut yang amat populer hingga kini itu, semula saya kira juga hanya untuk lelaki yang kabur meninggalkan anak istrinya.
Namun setelah pelarangan dua kali mudik Lebaran, saya baru menyadari, betapa Sandy Sulung mungkin sudah memprediksi saat menciptakan lagu itu pada 2003, bakal terjadi 'Bang Toyib' massal.
Sebait lagi 'Bang Toyib' yakni; Tiga kali puasa, tiga kali lebaran, Abang tak pernah pulang. Sepucuk surat pun tak datang, memang kini jadi kenyataan. Kalau pada 2018 tidak mudik, klop tahun ini tiga kali perantau tidak mudik alias pulang kampung.
Mudik, merujuk pada pendapat sosiolog Koentjaraningrat, adalah tradisi ritual para perantau. Bukan sekedar pulang melepas rindu, namun ingin menunjukkan telah berhasil di rantau kepada sanak saudara.
Mudik bagi perantau adalah kemewahan. Menyisihkan rupiah demi rupiah demi untuk mudik menjadi ritual pemudik setiap tahun. Terlebih bagi perantau seperti saya yang berasal dari Sumatera Barat, perantau itu punya strata sosial lebih tinggi di kampung halaman.
Berani mudik bagi perantau adalah pertaruhan. Jika belum berani mudik, berarti di rantau belum berhasil, sehingga ada istilah marantau cino bagi perantau yang tak pernah lagi kembali ke kampung halaman. Entah karena gagal di rantau atau memang tak mau lagi kembali karena tak ada sanak saudara lagi.
Mudik itu ritual bagus. Kementerian Pariwisata RI bahkan pernah menjadikan mudik sebagai bagian dari event pariwisata. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga menjadikan momen Lebaran untuk mempermulus seluruh jalan negara, sebagai bagian ingin menunjukkan ke pemudik betapa baiknya infrastuktur di negeri ini.
Jalan tol dibangun membelah Jawa dan Sumatera. Semuanya untuk memanjakan pemudik. Tiap momen Lebaran, pemudik itu bak raja. Dibuatkan posko mudik di berbagai titik. Dibuatkan bengkel mudik, hingga pembagian aneka makanan dan souvenir di berbagai ruas jalan mudik.
Namun semua mendadak jadi seram lantaran pandemi Covid-19. Larangan mudik dinilai berbagai pihak seperti mau menangkap teroris. Jangankan jalan nasional, jalan tikus, dan jalan semut pun tak luput dari penjagaan. Bus dikandangkan, travel gelap dirazia, dan pelabuhan ditutup untuk pemudik.
Keramahan kepada pemudik itu tiba-tiba sirna. Aturannya tegas, tak ada mudik Lebaran bagi siapa pun. Situasinya mirip mau lock down, meskipun dalam bahasa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Skala (PPKM) Mikro.
Tahun ini, keputusannya lebih tegas dari tahun lalu. Semua sudut kini sudah terkunci. Larangannya berlangsung lebih dari dua pekan. Sebelumnya, larangan mudik telah diberlakukan pada 6-17 Mei 2021. Namun kemudian diubah menjadi selama H-14 (22 April-5 Mei 2021) dan H+7 (18 Mei-24 Mei 2021).
Durasi larangan mudik ini hampir mirip dengan masa lockdown. Kita tinggal menunggu apakah pengorbanan tidak mudik tahun ini bakal berhasil menekan angka penyebaran Covid-19. Jangan sampai pengorbanan para perantau ini sia-sia, karena angka penyebaran Covid-19 tetap meroket. Semoga ini yang terakhir tak mudik Lebaran.
Salam,
Amiruddin Sormin
Wartawan Utama
Berikan Komentar
Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...
16457
EKBIS
9121
Lampung Selatan
4969
Bandar Lampung
4777
Bandar Lampung
4645
186
04-Apr-2025
257
04-Apr-2025
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia