Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Tepuk Tangan, Air Mata, dan Guru PPPK Paruh Waktu Bandar Lampung
Lampungpro.co, 21-Feb-2026

Admin 349

Share

Pimpinan Media Muhammad Asyihin. Lampungpro.co/doc

Suara tepuk tangan dan sorak gembira pecah menggema dari dalam GSG Karya Bakti Herman H.N. Lagi-lagi suara gaduh tetapi kali ini bukan karena amarah, bukan pula karena tuntutan. Ini gaduh yang lahir dari harapan. Sekitar 1.500 guru PPPK Paruh Waktu, termasuk operator dan staf tata usaha sekolah di Kota Bandar Lampung, larut dalam suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata saat mendengar langsung pernyataan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana.

Penulis yang berada di luar gedung sempat tertegun. Ada apa di dalam? Mengapa riuhnya terasa berbeda? Ini bukan riuh biasa. Ini riuh kebahagiaan. Sorak “bunda terbaik”, “terima kasih bunda”, dan kalimat-kalimat syukur lain terdengar jelas menembus dinding, menembus pintu. Penulis tahu betul, sebab saat itu hanya bisa duduk di luar. Bukan karena tak ingin ikut merayakan, melainkan karena memang bukan guru. Namun harapan, rupanya, tidak mengenal batas ruangan.

Baca juga: Validasi Perbulan, Bukti Guru Masih Hidup

Keriuhan itu makin meninggi ketika disampaikan bahwa apa yang baru saja diucapkan sang wali kota bukan sekadar wacana. Ia akan segera diproses. Mulai Senin depan jika penulis tidak salah menangkap—23 Februari 2026, dengan penegasan paling lambat Selasa. Dan dibayarkan dua bulan sekaligus. Di titik itulah suasana berubah. Tangis mulai terdengar. Bukan tangis yang dibuat-buat, melainkan tangis lega setelah bertahun-tahun menahan beban dalam diam.

Bagi guru PPPK Paruh Waktu, kalimat itu terasa seperti angin segar di ruangan pengap. Seperti air dingin bagi dahaga yang terlalu lama ditahan. Status “paruh waktu” sering kali terasa seperti bekerja penuh, namun hidup setengah. Aktivitas mereka sama seperti guru PNS atau PPPK penuh waktu—datang pagi sekitar pukul tujuh, pulang menjelang sore. Maka ketika ada pengakuan, sekecil apa pun bentuknya, ia terasa sangat besar di hati.

Janji itu akhirnya disebutkan dengan terang: penghasilan bulanan sebesar Rp1,5 juta, dibayarkan dua bulan sekaligus, dan ditransfer langsung ke rekening masing-masing. Tepuk tangan kembali pecah saat disampaikan bahwa anggaran telah ditandatangani dan diserahkan ke Dinas Pendidikan untuk diproses. Di titik ini, optimisme terasa nyata bukan janji yang diplintir, melainkan komitmen yang katanya sudah dikunci.

Apresiasi layak diberikan. Tidak setiap hari kepala daerah berdiri dan menyampaikan kabar baik yang begitu konkret. Di tengah keluhan panjang soal kesejahteraan guru, meski angka tersebut masih jauh dari kata ideal bahkan belum menyentuh UMK Kota Bandar Lampung yang berada di kisaran Rp3,3 juta namun tetap jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Ketika sebagian guru hanya menerima sekitar Rp500 ribu per bulan dari dana BOS, itu pun dibayarkan per tiga bulan. Pernyataan ini terasa seperti matahari yang muncul setelah hujan birokrasi yang panjang dan melelahkan.

Namun, di negeri ini ada pepatah yang tak pernah tertulis, tetapi sering terjadi: janji yang baik harus tiba tepat waktu agar tidak berubah menjadi cerita. Jangan sampai matang di atas, mentah di bawah. Pimpinan sudah sepakat, tetapi di lapangan justru dipenuhi alasan, cerita, dan kalimat “sedang diproses” yang terlalu sering terdengar.

Senin nanti akan menjadi hari penting. Bukan hanya bagi para guru yang menunggu “pesan cinta” dari ponsel mereka, tetapi juga bagi Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung. Di sanalah kata harus benar-benar menjadi angka, dan angka menjelma saldo. Di sanalah kepercayaan diuji.

Sindiran ini tidak dimaksudkan untuk mencurigai, melainkan mengingatkan dengan cara baik. Sebab anggaran yang sudah ditandatangani tidak boleh tersesat di lorong administrasi. Jangan sampai kabar baik ini diplintir menjadi kabar “nyaris”, atau janji pasti berubah menjadi janji “sedang diusahakan”.

Guru sudah terlalu lama menunggu. Maka kali ini, biarlah harapan benar-benar mendarat dengan mulus. Agar tumbuh kembali rasa percaya, dan bertambah kecintaan para guru PPPK Paruh Waktu kepada para pemimpinnya terutama Wali Kota Bandar Lampung.

Apresiasi pantas diberikan. Tepuk tangan memang layak diterima. Tinggal satu hal kecil yang sesungguhnya sangat besar: realisasi tepat waktu. Dan penulis, bersama banyak mata lain, akan ikut memantau.

Karena bagi guru, gaji bukan sekadar angka. Ia adalah pengakuan. Dan pengakuan yang baik adalah yang ditepati bukan yang hanya bergema meriah di dalam gedung, lalu berhenti sebagai janji belaka. (EdAI)

Muhammad Asyihin, S.Pd., MM (Pimpinan Media)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved